Cukup
Dua post dalam sehari … ![]()
Baru-baru ini saya bisa mendapatkan kontak kembali dengan teman lama. Sepuluh tahun sudah tidak pernah terjalin kontak dan sekarang dia sedang melayani negara sebagai pasukan perdamaian di Sudan. Senang rasanya memiliki kawan seperti itu, namun bukan itu yang ingin saya tuliskan.
Setelah obrolan ngalor-ngidul di YM dan sejak dia mengetahui bila frekuensi perjalanan saya dengan kereta api cukup tinggi dan sebuah pertanyaan klasik muncul. Dia bertanya kenapa saya tidak “membayar di atas” saja [tidak membeli tiket namun memberi sejuamlah uang kepada kondektur], biayanya akan jauh lebih murah. Saya tidak ingat sudah berapa kali saya mendapat pertanyaan seperti ini.
Spontan jawaban saya seperti ini:
sakjane merga aku ngerasa meskipun pendapatanku sakmene, tapi dicukupke Pengeran, dadi kudune nggo mbayar kreto ya cukup
makane aku tuku tiketnek pas mepet ya ra bali
sebenarnya karena saya merasa meskipun pendapatan saya segini, tapi dicukupkan Tuhan
jadi harusnya dipakai membayar ongkos kereta juga cukup
oleh karena itu saya membeli tiket
jika kondisi mepet ya saya tidak pulang
Selama empat tahun, hal ini menjadi pergulatan batin dan pergulatan dompet
. Beberapa orang yang pernah melontarkan pertanyaan tersebut seakan menganggap bahwa perbuatan saya membeli tiket adalah hal yang tidak masuk akal. Apalagi jika mengingat bahwa biaya yang bisa dipotong jika seluruh perjalanan dalam satu tahun dilakukan tanpa membeli tiket, cukup banyak untuk bisa membeli UMPC.
Sekarang apa yang masuk akal dan apa yang tidak masuk akal. Apa yang tidak masuk akal bagi kita bisa masuk akal bagi Tuhan. Penjelasannya sederhana, karena kita bukan Tuhan dan kita tidak sebesar Dia. Seorang tidak mungkin menyamakan kemampuan akalnya dengan Dia. Kadang kita perlu menyangkal diri dan menjadi tidak sama dengan dunia.
Sebenarnya hal ini berhubungan dengan sepenggal kalimat yang saya ucapkan setiap hari dalam doa pagi, “berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Sebuah kalimat yang membawa implikasi kepada sebuah penyerahan diri ketika sebelumnya dikatakan bahwa “terjadilah menurut kehendak Mu, di bumi dan di surga”.
Hal ini sebenarnya merujuk kepada kerinduan tentang kedatangan Kerajaan Tuhan di bumi dan syarat mutlak untuk bisa menjadi bagian dari Kerajaan itu adalah menerima kasih Allah tinggal dalam hati kita. Namun bukan semata-mata hati, melainkan juga dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
Dikatakan bahwa “manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan”, alasannya lebih merujuk kepada konflik kepentingan. Dan bagaimana seorang bisa sepenuhnya mengikuti Allah jika di lain pihak ia melakukan kecurangan. Apa gunanya setiap bulan seorang menyisihkan 10% dari penghasilan yang ia terima setiap bulan untuk dipersembahkan kepada Sang Pemberi Berkat sebagai wujud syukur jika di saat yang sama ia menumpuk uang dengan kecurangan.
Ketika saya masih kecil, ada saat dimana bersama beberapa kawan masuk ke warung gorengan dan bersama-sama mengambil gorengan. Namun, ironisnya kami membayar dengan harga yang jauh di bawah jumlah gorengan yang kami makan. ![]()
Saya tidak akan melakukan hal semacam ini dalam kehidupan saya sekarang. Karena seperti orang Jawa bilang, “rejeki, jodho, pati” [rejeki, jodoh, kematian] adalah hak Tuhan. Demikian pula, berkat yang diberikan setiap harinya adalah berkat yang cukup, bahkan untuk membeli tiket kereta. Kita bisa memilih mengabdi kepada siapa dan jika seorang memilih mengabdi kepada kedagingan kita, banyak alasan akan mudah sekali kita temukan untuk membenarkan perbuatan buruk. Kadang dalam hal ini, alasan yang sering digunakan adalah ngirit meksi kadang ironis jika mengingat pribadi bersangkutan mampu membeli handphone bagus. ![]()
Jika kita telah menyandarkan hidup kita kepada Sang Pembuat Kehidupan, pastilah kita tidak akan kekurangan, and I’ll stick with that.
Advertising






  


By omiyan, February 12, 2009 @ 4:20 pm
menikmati hidup dan mensyukurinya serta memandang tidak kepada kekayaan pastinya kita sudah merasa kaya…walau saya juga mengalami ketika ada perasaan cepet terpenuhinya impian saya walau saya tahu itu mustahil
By hmcahyo, February 12, 2009 @ 4:47 pm
cek disini
http://ibsn.web.id/members
By hmcahyo, February 12, 2009 @ 5:23 pm
http://cantigi.wordpress.com/ibsn
By SJ, February 12, 2009 @ 6:40 pm
yeku sejatining swarga, srowa-srawu sarwa lila lan legawa…
By *hari, February 12, 2009 @ 10:07 pm
Tapi aku yakin, seandainya dirimu dan nyonyah tak terpisah ratusan kilo begitu (ngga ada tiket kereta yg mesti dibeli), blom tentu jg terkumpul untuk UMPC
*lha contone aku dewe je.. (contohnya diriku ini
)
By p u a k, February 12, 2009 @ 10:18 pm
Well.. gak usah khawatir,.. percaya Tuhan pasti memberi yang terbaik dan tidak akan kekurangan. That’s all.
By bedh, February 13, 2009 @ 12:09 am
merasa cukup itu susah, kadang keinginan untuk mendapat kan lebih membuat orang menjadi lebih irit dan pelit. meskipun pada diri sendiri. kalo dah gitu pa lagi sama orang.
yang paling parah malah selalu merasa kurang. duh bakal banyak kelanjutan lainnya yang bakal jadi negatif.
By Emanuel Setio Dewo, February 14, 2009 @ 7:01 am
Setuju banget.
Tuhan memberkati.
By sigid, February 16, 2009 @ 11:03 am
@ omiyan
Salah satu hal yang sering menjadi batu sandungan bagi saya [dan mungkin beberapa orang] untuk bisa selalu bersyukur biasanya adalah kebutuhan hidup.
Namun jika kita mampu menang dalam pergumulan itu, …
Alangkah indahnya
@ hmcahyo
I’ve checked it, matur nuwun
@ SJ
Ahhhh, legowo …
Betapa tenterem terdengar di teliga
@ *hari
Bagaimana kalau netbook dude
@ puak
On progress ….
Kekuatiran memnag tidak pernah menjadikan sesuatu menjadi lebih baik
@ bedh
Iya, tidak pernah puas merupakan salah satu kelemahan manusia.
Seperti halnya tidak ada namanya “uang banyak”, seringkali saja kalo masalah uang, kurang banyak
@ mas Dewo
Hi hi, lagi bergumul nih mas saya
By DzN, February 16, 2009 @ 6:24 pm
Yah…
Itulah rakyat Indonesia.
Sudah terbiasa melanggar segala hukum. Kira2 isa diubah gak yah?
Kayaknya aq pesimis deh klo Indonesia isa jd negara yang taat hukum.
By tomy, February 17, 2009 @ 1:57 pm
setiap terbentang kesempatan perasaan jadi tergelitik
Duh Gusti nyuwun lepat saking sedaya piawon
By septarius, February 18, 2009 @ 1:00 pm
alow teman-teman blogger…ikutan 3rd IBSN Blog award yuk..
silahkan daftarkan url artikel disini
keterangan yang lebih lanjut bisa dilihat disini
akhir pandaftaran artikel 25 Maret ‘09 jam 23.59 wib..
IBSN = Berbagi Tak Pernah Rugi ^_^
by. komporizer tim : septa
By antowi, March 4, 2009 @ 6:44 am
Amiin berkat Tuhan nyata setiap hari… jadi kenapa kita mesti bersusah payah ngirit buat sesuatu yang kita inginkan? Saya selalu mengingat “Berkat Tuhan yang membuat kaya, susah payah tidak akan menambahinya” GBU
By fetro, March 5, 2009 @ 8:12 am
setuju, harus beli tiket dong Bro…
bayangin aja kalo semua penumpang kereta api bayar diatas, lama-lama buangkrut PT KAI nya.
Jadi ingat kalo ngapelin mantan pacar di JKT, naik ketera api bisnis pun dijalani
By harikuhariini, March 9, 2009 @ 3:58 pm
Agak2 susah dilakukan, tapi ketika kita berhasil melakukannya rasanya kok hidup tanpa beban yak
By sigid, March 12, 2009 @ 10:34 am
@ DzN
Wah, mungkin jika setiap orang membenahi diri sendiri, jadinya …. semua orang berubah kan ams Dani
@ tomy
Lha semakin kita berusaha jujur itu biasanya semakin banyak godaannya je mas, biasanya lho.
@ septarius
Matur nuwun untuk undangannya
@ antowi
Njih mas, itu pula yang membuat sampai saat ini saya masih di sini, belas kasih Tuhan.
@ fetro
Iya mas, yang memprihatinkan itu, hal “ndak mbayar tiket” tadi sudah menjadi semacam sindikat.
@ harikuhariini
Betul, susah tapi layak diperjuangkan.
By titiw, May 10, 2009 @ 12:19 am
Betul itu.. kalo bukan kita yang peduli sama yg gitu2,, siapa lagi..? Lagian kalo kamu bayar dengan uang yg bener, kamu punya hak untuk nyela2 kereta yg telat. Kalo nggak? ya nggak punya hak.. he aku kok oot ya..? haha..
By lentin, November 23, 2009 @ 1:53 pm
betul-betul…
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. -Lukas 16:10