Stop Complaining

By sigid | March 18, 2009

Ketika saya masih kecil, pepatah yang sering menjadi indoktrinasi waktu itu adalah “rajin pangkal pandai” dan “hemat pangkal kaya”. Sebagaimana indoktrinasi pada umumnya, hal tadi sedikit banyak membentuk pola pikir kita selanjutnya. Dalam perkembangannya, orang secara tidak sadar menciptakan dunianya sendiri, dunia ideal menurut dia. Menurut logika-logika masing-masing yang dia anggap benar. Dunia adalah sebagaimana pikiran kita menyerapnya.

Sayangnya kehidupan kadang kala tidak seperti dunia yang kita install di kepala kita. Seringkali kita secara tidak sadar tidak mampu menerima dunia yang nyta dan tetap berpegang pada idealisme kita. Sebelum kita dihadapkan kepada kehidupan yang sebenarnya, menyiasati hal seperti ini agar tidak merampas kesejahteraan hati mungkin cukup sulit. Ini menurut saya yang membedakan mentalitas anak-anak dan orang dewasa. Orang dewasa yang sesungguhnya telah mencicipi segala ketidaktentuan dunia dan seni menjalani hidup. Normalnya orang yang telah merasakan hidup akan mampu menghargai kehidupan [I said normally (:| ]. Namun orang yang tidak mau melihat kehidupan sebenarnya dan selalu berpatok kepada versi dunia yang ada di pikirannya seringkali akan kecewa.

Manusia banyak dikagetkan oleh respon dunia terhadap perbuatan kita. Mungkin hal ini berhubungan dengan kebiasaan kita untuk menggunakan logika dalam hampir semua hal. Secara tidak sadar seringkali kita sudah “menentukan kenyataan” berdasarkan logika kita dan jika kenyataannya nanti berbeda, kita menolak untuk menerimanya. Hal ini mungkin disebabkan karena kenyataan yang ingin kita terima adalah kenyataan yang sesuai dengan nalar kita. Sebenarnya ini tidak salah, mungkin hal ini yang disebut ekspektasi. Namun jika kemudian kenyataan yang muncul sama sekali berbeda, jangan sampai ekspektasi ini membuat kita jatuh, kita harus belajar menerima.

Saya ambil beberapa contoh,

  • “logikanya jika orang itu sudah saya tolong, tidak mungkin dia akan menjerumuskan saya”
  • “gimana sih, sebagai pimpinan dia itu nggak boleh kaya gitu”
  • “saya sudah kerja keras, hasil kerja saya bagus, paling tidak harusnya saya mendapat kenaikan gaji”
  • “saya selalu ramah dan baik sama dia, tega-teganya dia menipu saya”

Pada contoh di atas, beberapa hal tidak berjalan sesuai dengan penalaran kita. Ketika kita dihadapkan pada situasi seperti itu muncul dalam pikiran kita perasaan berontak. Kita berpikir bahwa seharusnya tidak “begitu”, seharusnya dalah seperti “ini”. Kita berpikir kenapa orang bisa berbuat seperti itu.

Seperti halnya pepatah “wong jujur dhuwur wekasanne” yang artinya adalah semacam “orang jujur akan ditinggikan pada akhirnya”. Saya asumsikan setiap orang sadar bahwa di jaman ini berlaku jujur membutuhkan perjuangan yang hebat. Dan sudah banyak terjadi jika orang jujur justru menjadi korban dari ketidakadilan. Apa yang terjadi dengan pepatah di atas, kenapa tidak sesuai dengan yang kita bayangkan. Jangankan ditinggikan, kadang justru dilecehkan … ceh … ceh …  dan ditipu. Mungkin pepatah itu tidak salah. Hanya mungkin orang bijak yang membuat pepatah itu tidak berniat mengatakan seluruh fakta, yaitu bahwa untuk “ditinggikan pada akhirnya” membuatuhkan perjuangan yang keras dan kesabaran untuk menunggu “akhir”.

Kontradiksi antara respon dunia yang sesuai nalar kita dan respon dunia yang sebenarnya sering tidak bisa kita cerna begitu saja. Pikiran kita berkata bahwa kita membutuhkan penjelasan logis kenapa itu terjadi. Tanpa itu kita tidak bisa terima.

Pikiran akan mulai menyusun emosi negatif sebagai bentuk perlawanan kepada kenyataan. Orang akan marah, kecewa, bahkan mungkin menggugat Tuhan. Kemungkinan dalam stadium yang lebih parah, akan timbul protes semacam, .. no body loves me, .. no body cares about me, dan semacamnya. Jika kemudian kehidupan menghadapkan dia pada sebuah kondisi perasaan yang ambruk atau depresi dia akan berpikir jika sepertinya seluruh dunia memusuhinya. Perasaan kesendirian buddy, sesuatu yang cukup menakutkan … hiiiiii

Kalau dipikir-pikir, kenapa kita harus memerlukan penjelasan yang logis. Let it be.

Dalam kasus hubungan dengan sesama, setiap orang merupakan pribadi yang unik, jadi respon kita terhadap suatu hal tidak bisa kita jadikan patokan. Praktisnya adalah, cuma karena kita bereaksi X tidak mesti orang lain akan bereaksi sama. Hal ini berlaku dalam konteks positif dan negatif. Saya tidak pernah setuju dengan kalimat semacam .. “siapa yang tidak marah kalau …”, “wajar dong kalau saya benci dia, dia kan …”, “semua orang pasti akan … jika …” Setiap orang bisa bereaksi berbeda. Contoh ganjil-nya adalah, saya pikir Leopold Ritter von Sacher-Masoch mungkin justru kegirangan jika di pukul, he he .

Jadi kita tidak bisa “mengharuskan” respon orang lain atau respon kehidupan untuk selalu cocok dengan ekspektasi kita. Kadang bagaimanapun respon kehidupan terhadap perbuatan kita, lebih nyaman jika kita menyerapnya sebagai “truth” dan lihatlah kenyataan itu. Kita boleh bilang “ups” atau “waduh” tapi itulah yang terjadi, tidak perlu menghujat. That’s the way life is, itu yang terjadi dan bukan yang ada di pikiran kita. Jika ada sesuatu yang bisa kita lakukan terhadap kenyatan itu, lakukan, jika tidak ya wis. Kita mungkin tidak perlu penjelasan logis mengenai apa yang terjadi. Jika orang yang kita tolong justru meninggalkan kita, so what. Saya tidak peduli alasan dia pergi, yang lebih penting justru bagaimana kita memperbaiki kondisi tersebut dan menjadikan hari esok lebih bahagia. Semoga saya tidak tampak seperti ignorant …

Advertising

17 Comments

  • By cbodho, March 19, 2009 @ 7:58 am

    Mas “hemat pangkal kaya” itu pepatah lama … coba sampeyan ikuti seminar para motivator TDS, AW, AH pasti diajarkan untuk merubah mind-set kita u/ berpkir dan berpolah sebagai orang kaya …. gak tahu benar atau tidak … tetapi virus materialisme sepertinya sudah menyebar dan menggerogoti budaya kita bak EBOLA

    miris ..
    CB

  • By *hari, March 19, 2009 @ 11:40 am

    Aku koq merasa tersindir tho kang?
    hehehe..dulu sempat menghujat tuhan soale :lol:
    tapi pada akhirnya, sesuatu yang bisa menyembuhkannya adalah mencoba menerima apapun yang terjadi dan bekerja sama sepenuh hati dengan sesuatu yang tak terhindarkan itu. (nyontek de Mello)
    Dan pada akhirnya hidup jadi lebih indah…apa adanya…(dan saya jadi bersahabat lagi dengan tuhan :D )

    eh, tp jujur saya masih belom bisa untuk ngga komplen soal satu hal, Kenapa internet ndak ada yg gratis ya? :lol:

  • By jenderal abee, March 24, 2009 @ 7:15 pm

    hemat koment pangkal…….. :mrgreen:

  • By p u a k, March 25, 2009 @ 11:52 am

    Gitu doong…nulis..
    Mosok..blog dianggurin sebulanan..

    Tapi sekali nulis gini.. kok yo abooott..
    Ndak isa ngikutin :mrgreen:
    peace juga deh.. :D

  • By iQko, March 29, 2009 @ 11:37 pm

    begitulah yang terjadi terkadang.

    apa yang dilihat, hanya itu yang dinilai.

    saya suka dengan statement,

    apa yang kita rasakan belum tentu orang lain rasakan…

  • By dana, April 2, 2009 @ 11:40 am

    feednya kok nggak ada bro?

  • By sigid, April 2, 2009 @ 12:03 pm

    @ all
    Sori, lagi boyongan pindahan rumah, masih berantakan nih :D

    @ dana
    Eh, di pojok kiri bawah mas … :mrgreen:

  • By *hari, April 2, 2009 @ 3:28 pm

    Njajal koment ah…
    mumpung masih gress gini… :mrgreen:

  • By Aden Kejawen, April 2, 2009 @ 5:27 pm

    Salam kenal dan mampir ya

    tukeran link yukkkk

  • By SJ, April 2, 2009 @ 8:49 pm

    hidup ternyata bukan gagasan? *mesti update reader lagi nih* :cool:

  • By hmcahyo, April 3, 2009 @ 6:10 am

    wah blognya kereeeen :D

  • By abee, April 3, 2009 @ 10:51 am

    wah…diboyong semuanyah…. :P
    selamat dah pindahan mas… :D

  • By Emanuel Setio Dewo, April 4, 2009 @ 8:26 pm

    Ya, kita tidak hanya dituntut untuk dewasa dalam bersikap, tapi juga BERHATI BESAR, bahwa sebenarnya tidak semuanya sesuai dengan logika kita. Dan kita harus berhati besar dalam menyikapinya.

    Selamat menulis di tempat baru.

    Salam.

  • By sigid, April 6, 2009 @ 10:14 am

    @ *hari
    Boleh-boleh, diorek-orek juga boleh ..

    @ Aden Kejawen
    Boleh juga …
    *kok dari tadi saya cuman ngomong boleh yak :D *

    @ SJ

    We he, pakde, mungkin memang hidup itu … adalah hidup.

    @ hmcahyo
    Hi hi, akhirnya bapak ke sini lagi … sip deh ;))

    @ abee
    Iya mas Yusuf, say boyong semuawanya :D

    @ mas Dewo
    Betul mas, berhati besar, seperti pakde CB yang mengajak kita untuk “Belajar Mengucap Syukur ketika Sulit Mengucap Syukur”.

  • By sau, April 6, 2009 @ 1:45 pm

    Praktisnya adalah, cuma karena kita bereaksi X tidak mesti orang lain akan bereaksi sama.

    haha… setujuu…
    tampil beda boleh kan?!

    tapi emang, kalau terbang terlalu tinggi, ntar jatohnya sakit..
    mending ga usah ngarep macem-macem deh.. let it be.

  • By edy, April 23, 2009 @ 12:17 pm

    bener banget tuh, mas… kadang dng ekspektasi yg tinggi begitu ktemu kenyataan yg “cuman segitu” ditambah jiwa yg ga siap bisa bikin sakit. hehehe jadi curcol deh… tapi untungnya bisa segera sadar bahwa mungkin emang ini jalan yg harus saya lalui

    *akhirnya bisa komen di sini*

  • By tomy, November 12, 2009 @ 2:08 pm

    Urip ing ndonya pancen angel
    Yen ora gelem kangelan aja urip ing ndonya

    Begitu kata R. Sosrokartono yang pernah saya baca
    Ya hidup memang tak selalu sejalan dengan keinginankita
    Tapi disitulah indahnya
    Akan selalu ada kejutan

    Shaloom

Links to this Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

WordPress Themes