Exorcism

By sigid | April 30, 2009

kop-exorcism

[www.empireofthekop.com]

Dalam beberapa kebudayaan dikenal sebuah fenomena kerasukan dimana konon dalam pribadi orang yang kerasukan terdapat entitas gelap yang mengambil alih tubuhnya. Untuk merebut kembali orang tersebut dari entitas ini sering kali dilakukan pegusiran setan atau dalam bahasa keren-nya disebut exorcism.

Namun apakah peperangan manusia dengan entitas gelap ini hanya sebatas pada kasus kerasukan. Marilah kita buka kembali pepatah lama jika “urip iku ming mampir ngombe” atau jika “hidup itu hanya mampir minum” dan implikasinya adalah bahwa kehidupan yang kita jalani sekarang adalah persiapan untuk kehidupan selanjutnya yaitu sebuah kehidupan bersama Sang Pembuat Kehidupan.

Dalam masa persiapan ini, entitas gelap bekerja secara halus dalam bentuk segala kecenderungan untuk menjauhkan atau memisahkan kita dari kasih, kebijaksanaan, kerendahan hati, dan semacamnya. Jelas bahwa dalam hal ini kita juga menghadapi perang. Setan menanamkan ide-ide mereka yang “tidak mutu” ke dalam kepala kita dan berusaha meyakinkan diri kita bahwa itu adalah ide kita sendiri. Tujuan akhirnya adalah memisahkan seutuhnya manusia dengan Sang Maha Kasih dan mengagalkan persiapan kita untuk menuju keabadian bersama dengan Sang Pembuat Kehidupan. Hal ini pula yang membuat setiap hari yang kita lalui menjadi sebuah peperangan antara yang baik dan buruk, antara kedagingan dengan kerohanian, antara nurani dan ego.

Kitab suci [any of them] menjadi semacam Standard Operating Procedure bagi manusia untuk memenangkan perang ini dan mencapai kedamaian abadi. Namun kita dihadapkan kepada kenyataan menyedihkan, bahwa orang tua kita mengenalkan buku itu sejak kita kecil dan setelah beberapa puluh tahun memilikinya masih saja kita dikalahkan entitas gelap dalam peperangan ini.

Banyak dari kita terbuai dengan hal-hal prosedural dari buku suci itu dan justru melupakan essensi terpentingnya. Kadang kita cukup puas jika telah mampu sembahyang sekian kali dalam sehari, menyisihkan sekian persen uang kita untuk tempat ibadah, mengucapkan banyak kata “suci” dalam berbagai kesempatan dan hal semacamnya. Ibadah yang benar tidak terbatas dalam tempat sembahyang namun lebih luas, yaitu juga dalam perbuatan kita, contemplativus in actione.

Apakah kita pikir bahwa orang lantas akan menjadi relijius hanya karena menyumbang sekian juta ke tempat ibadah atau mengikuti prosesi ibadah setiap hari tertentu. Apa yang terjadi dengan dogma tentang kerendahan hati, sabar, sopan, tidak mencari keuntungan sendiri, menghargai orang lain dan hal semacamnya. Jika kita pikir bahwa kalau kita sudah ke rumah ibadah pada hari X, berdoa dan menyumbang lantas kita bisa melupakan semua hal tentang kerendahan hati itu, maka kita salah. Relijius adalah orang yang pikiran, perkataan dan perbuatannya selaras dengan sifat-sifat Tuhan.

Saya setuju dengan kritik Thomas Kempis yang mengatakan bahwa bukan kata-kata manis yang membuat orang menjadi suci namun kehidupan yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Benar adanya jika dikatakan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.

Saya merasakan sendiri bahwa orang tidak dapat secara instan merubah kebiasaaannya, namun kita bisa selalu memulai dari hal-hal yang tampak kecil. Saya tidak pernah memahami sebetulnya apa yang sering dimaksud dengan “natural wisdom” namun banyak hal dari keseharian kita yang dapat kita gunakan untuk evaluasi. Pakde CB pernah mengatakan bahwa ketaatan yang hebat adalah menjadi taat ketika tidak tidak harus taat.

Bahkan kita bisa langsung memulainya sore ini dalam perjalanan. Di jalanan seringkali kita bisa menjadikan banyak fenomena lalu lintas sebagai metode ampuh untuk membuat diri kita menjadi lebih sabar dan bukan sebaliknya.

Di dekat saya terdapat sebuah lampu merah yang hampir tidak ada gunanya karena meski lampu telah merah, hampir tidak ada kendaraan yang berhenti karena arus lalulintas dari jalan lain hanya segelintir. Apakah kita mau berhenti ketika lampu telah merah dan mempersilahkan segelintir pengendara itu untuk lewat dengan nyaman ataukah kita akan terus melaju, pilihan ada di tangan kita.

Di dalam lalu lintas yang macet kadang terjadi senggolan antar pengendara sepeda motor atau mobil entah karena tidak sengaja atau karena cara mengemudi yang ugal-ugalan. Meski jika senggolan itu tidak membahayakan, tidak sedikit pengendara yang memelototkan matanya yang indah dan meneriaki pengendara lain dengan kata-kata yang biasa dipakai untuk menyebutkan nama binatang. Apakah jika kita berada dalam posisi tersebut akan melakukan hal yang sama atau bersyukur karena senggolan tadi tidak membahayakan dan kembali meneruskan perjalanan, pilihan ada pada kita.

Pernahkan anda hampir menyenggol mobil di depan anda karena dia berhenti mendadak dan ternyata sang pengemudi sedang asik berkelakar dengan temannya lewat handphone? Saya pernah, dan selalu ada pilihan bagi kita untuk meneriaki pengemudinya, mengingatkannya baik-baik, atau cuek dan tetap melaju.

Apakah kita pernah merasa tersinggung jika orang lain dengan status sosial lebih rendah dari pada kita berbicara tidak sopan kepada kita. Namun, kita akan maklum jika atasan kita atau orang yang lebih hebat dari kita yang melakukannya.

Contoh di atas adalah hal-hal yang tampak kecil, masih banyak hal lain yang bisa kita pakai sebagai interospeksi misalnya menolak untuk korupsi meski ada kesempatan. Tentunya masih banyak hal lain, mari kita berubah, menajdi lebih sabar di jalan … dan di kehidupan kita …  (:|

*judul dan gambarnya ndak nyambung yah :D

12 Comments

  • By Ersis Warmansyah Abbas, April 30, 2009 @ 10:20 pm

    Seperti judl film ya

  • By riwariwi, May 1, 2009 @ 5:10 pm

    Arshavin:
    Scoring 4 at Anfield

  • By *hari, May 1, 2009 @ 9:56 pm

    Mungkin memang the Reds sedang kerasukan Red Devil saat itu…

    *sayangnya kerasukan itu ngga berlangsung lama [-(

  • By kelly amareta, May 6, 2009 @ 4:54 pm

    betul pak, emang judul dan gambarnya engga nyambung :D
    tapi artikelnya oke ko pak
    sangat filosofis

  • By Emanuel Setio Dewo, May 6, 2009 @ 9:26 pm

    Artikel yg bagus banget & sangat mencerahkan. Sekaligus lucu banget (terutama kalimat terakhir. Hehehe…)

    GBU

  • By sigid, May 7, 2009 @ 10:28 am

    @ pak Ersis
    Betul pak, emang disengaja :d

    @ riwi
    … and still can’t outclassed the Anfiled Gang

    @ *hari
    :)) The Reds tidak butuh klenik mas, mereka memang berkelas.

    @ kelly amareta
    He he, sebetulnya karena saya begitu eforia saat mereka memborbardir MU mbak
    :)>-

    @ mas Dewo
    Lha itu mas, masih eforia itu lho :))

  • By S™J, May 19, 2009 @ 5:52 pm

    weh… mo kiamat… setan juara lagi o:-)

  • By sigid, May 28, 2009 @ 10:24 am

    @ S™J
    Ternyata tadi malam mereka lagi-lagi di-exorcist Barcelona :d

  • By arnold86, June 17, 2009 @ 7:29 pm

    iya saya pernah…tapi belum pernah teriak2 ke si pengemudi..hanya di dalam hati..:d:d

  • By sigid, June 24, 2009 @ 7:53 am

    [-( mending ngalah aja mas, di jalan itu banyak yang emosi-an

  • By tomy, March 8, 2010 @ 7:37 am

    Salam jumpa Mas Sidgid lama tak saling bertegur sapa. sampai baru tahu sekarang kalo sudah boyongan pindah
    Sayapun meyakini hal demikian bahwa syariat dari kehidupan adalah budi pekerti yang luhur bijaksana, apapun itu agamanya
    Bila symbol & penanda yang terwujud dalam cara beribadat menjadi konflik, kembalilah kepada buah2 roh-nya.
    Oke Mas salam sejahtera selalu
    :”>:”>

  • By Anita29Silva, June 12, 2010 @ 11:56 am

    According to my own monitoring, millions of persons on our planet receive the home loans at various creditors. Thence, there’s good possibilities to get a credit loan in every country.

Links to this Post

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

:) :( :d :"> :(( \:d/ :x 8-| /:) :o :-? :-" :-w ;) [-( :)>- more »

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree

WordPress Themes